Kamis, 28 Juli 2011

Berhenti adalah Sebuah Langkah

Kemampuan untuk berhenti erat kaitannya dengan kekuatan mengontrol dan mawas diri. Sebelum sebuah situasi mencapai klimaks menurun atau destructive setiap orang perlu memikirkan cara untuk menghentikan prosesnya. mesin yang dipacu terus-terusan tanpa henti akan meledak dan lebih cepat rusak ketimbang yang secara teratur menjadwalkan berhenti untuk maintenance.


Itulah awal sebuah artikel yang saya baca di kompas pada tanggal 11 Juni 2011, Artikel yang menggugah saya untuk berpikir dan mulai mengevaluasi diri saya belakangan ini, apa yang saya mau baik dari segi kuliah saya, kerja maupun di bagian lain hidup saya. aktifitas saya banyak berubah memang belakangan ini, dan sya abanyak kehabisan waktu bahkan untuk bertanya terhadap diri sendiri apa yang saya mau? 

Ketika saya memulai sesuatu seringkali saya melupakan waktu untuk berhenti, terlalu sibuk dengan apa yang saya kerjakan dan tersadar banyak momen yang saya lewatkan, Bila sesuatu menyenangkan kita seringkali lupa melihat efek buruknya, banyak memang diluar sana yang tak bisa berhenti karena rokok, narkoba, kopi padahal mereka tau itu merusak kesehatan. Bagaimana dengan saya? apakah saya tau apa yang saya kerjakan itu merusak diri saya? dan sudah waktunya saya mengevaluasi diri, bertanya kepada diri sendiri, apa yang saya ingin capai, menentukan arah kembali dan menetapkan langkah.

yang lain banyak berkata "sayang ndi, lanjutin saja" atau "kenapa harus begitu?" namun ketika saya bertanya dan mengevaluasi diri saya, ternyata saya sudah mengambil kesimpulan untuk tidak melanjutkan. Saya lebih baik berhenti dan menantang diri saya lagi, untuk mendapatkan apa yang saya mau.

Hanya Individu yang siap untuk keluar dari Comfort Zone yang akan merasakan nikmatnya pembaharuan yang merangsang andrenalin dan perubahan yang memacu kematangan pribadi dan membawa kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain.

dan setelah saya selesai menulis artikel ini, saya putuskan untuk berhenti dari 2 hal, yang pertama saya lakukan adalah berhenti untuk merasa tak didengar saya keluar bukan karena marah, tapi karena saya merasa tak didengar dan yang kedua saya berhenti dari tempat kerja saya karena merasa saya merasa gagal di bidang pendidikan yang saya lebih inginkan.

Tapi masih banyak pertanyaan yang harus saya jawab, bukan ini saja. 
 _________________________________________________________
catatan kecil:
  1. Artikel di koran Kompas pada hari Sabtu, 11 Juni 2011 dengan judul Tahu Saat Berhenti by Eileen Rahman dan Emilia Jakob
  2. Kebetulan dengan mata kuliah di semster ini Manajemen Maintenance. 
  3. Kadang kita tak tau apa yang kita mau, dan baru tersadarkan jawabannya ternyata dekat tapi bagaimana bila itu salah? biarkan waktu yang menjawabnya.