Sabtu, 07 Januari 2012

Jakarta Magrib


Akhirnya saya berhasil mendapatkan DVD Jakarta Magrib, ini juga berkat bantuan salah satu my best friend,  dari awal 2011 kemarin saya sangat penasaran dengan film ini, apalagi ini katanya film indi yang di putar di beberapa Festival Film ternama. Yang saya bikin penasaran sih juga karena nama Salman Aristo yang menjadi sutradara dan Penulis di film ini, Salman juga Penulis Skenario Laskar Pelangi dan Film ini adalah debut pertamanya untuk jadi sutradara.






Film ini berisi 6 cerita yang saling terhubung, terhubung dengan Jakarta sebagai tempat tinggal, yang digambarkan  di film ini sebagai kota yang berbelit-belit, sibuk dan individualism  Dan magriblah sebagai penghubung waktu, dimana biasanya semua orang sibuk di Jakarta sudah atau sedang perjalanan  pulang ke rumah.

Ya udah, sekarang gini daripada kita berantem mendingan kita main guling-gulingan. Iya kan? Yuk! – Iman, Satpam
Iman (Indra Birowo) adalah seorang satpam yang baru pulang  3 hari lembur, akibat anaknya yang sedang sakit. Saat sampai ke rumah, yang ia inginkan adalah bercinta dengan istrinya, Nur (Widi Mulia). Namun Magrib, anaknya yang rewel dan mertuanya ternyata menjadi masalah yang mengganggu momen suami istri tersebut.

Saya ingin adzan tepat waktu setiap hari, Adzan itu tanda ngasih tau ke orang-orang sudah saatnya ngobrol sama Tuhan, Apalagi Magrib, Nampaknya hanya magrib saat orang-orang jamaah di Jakarta ini. – Babeh Armen, Penjaga Mushola
Bagaimana jadinya Seorang Penjaga Mushola atau disebut Marbot dan seorang Preman yang sedang Mabok berbagi cerita, disini Babeh Armen (Sjafrial Arifin) dan Baung (Asrul Dahlan) berkonflik tentang masalah banyak hal, dari pekerjaan, kematian bahkan Musola yang selalu sepi. Di ujung cerita Baung akhirnya menangis dan mengumandangkan adzan yang membuat masyarakat sekitar menjadi marah.

Tumben Bener ya jam segini bisa kumpul bareng? Biasanya kan kalau pada mau beli Aki suka masing-masing – Tuti, Wartawan TV
Bagian ini mungkin mengambarkan bagaimana orang-orang di perumahan besar berinteraksi, mengambarkan bagaimana mereka hanya saling bertetangga tapi tak saling kenal, saling sapa tanpa tau nama. Saat yang mungkin bisa berinteraksi adalah ketika salah satu penjaja makanan terenak di komplek itu datang, mereka menyebutnya Aki. Aki Berjualan Nasi goring dengan menggunakan tungku api bara, yang menjadikan masakannya sangat enak. Namun sore itu, aki tak kunjung datang, semua yang menunggu akhirnya saling sapa dan pada akhirnya ketika magrib berkumandang mereka kembali seperti orang-orang Jakarta sibuk lainnya, Individualisme.
Lidah Kuntilanak itu Lebar, panjang, Namanya juga Setan – Ivan, Pelajar
Bagian ini menceritakan sedikit potret anak Ibukota yang senang main game di rentalan Playstasion, Namanya Ivan (Aldo Tansani) dia bolos Madrasah sore itu, untuk bermain PS di rental favoritnya. Namun sayang sore itu rentalannya penuh dan tak satupun anak yang ingin menyudahi bermain gamenya. Ivan akhirnya menemukan cara supaya bisa bermain PS, dia susun cerita Horor tentang Magrib. Namun ketika Magrib berkumandang Ivan harus berhadapan langsung dengan cerita horror yang dia buat.

Satu namanya bukan Portofolio, showreel klo buat orang film. Kedua, klip itu ga bisa dijadiin show reel buat nyari job layar lebar – Reza Rahadian
Bagian ini menceritakan pasangan yang telah pacaran selama tujuh tahun. Reza Rahadian dan Adinia Winasti yang memerankan tokoh ini, Reza Rahadian yang mengambarkan tokoh anak muda yang seenaknya kepada orang lain, dan Adinia Wirasti sebagai pacar yang sabar menghadapi Reza. Mereka sedang dalam perjalanan menuju catering untuk membantu adiknya Reza,  dengan membantu ini Adinia berharap bisa dipercaya oleh kedua orangtuanya untuk menikah. Namun sikap seenaknya Reza menjadikan adzan Magrib sebagai ujung akhir hubungan mereka.
Bagian ini adalah bagian yang paling saya suka, karena dialognya yang ngena. Hehe

Editor itu kerjaan yang penting banget loh! Second Director! Dan aku nyari pekerjaan yang penting dan Editor yang nentuin hasil akhir film. Ngak ngerti kan yang gitu-gitu? Nggak? – Reza Rahadian
Kalau gitu, kamu bisa ga nentuin hasil akhir hubungan kita gimana? Nggak? Aku bisa – Adinia Wirasti

Aduh saya tuh belom sempet bisa keliling, Bannya kempes – Aki, Tukang Nasi goreng
Pada bagian ini, adalah ujung dari semua cerita. Dimana sebagian besar tokohnya berinteraksi dengan caranya masing-masing. Iman yang bertemu dengan Aki si penjual Nasi Goreng, Ivan yang pulang ketakutan dan di temukan ayahnya, Adinia Winasti yang akhirnya keluar dri jalan pintas dengen menyetir sambil menangis dan segerombolan orang yang siap-saip ke masjid untuk menyerang Baung.

Yah setelah menonton film ini, penasaran saya sembuh.. haha. Menurut saya, Jakarta Magrib itu seperti kejadian nyata yang memang pernah terjadi, mungkin akan terjadi di kehidupan kamu. Klo berdasarkan angka mungkin 3 dari 5 Bintang. Dan bagi yang belum nonton, silahkan beli VCDnya,

______________________________________________________________________
Directed by Salman Aristo Produced by Reza Servia Written by Salman Aristo Starring Indra Birowo, Widi Mulia, Asrul Dahlan, Sjafrial Arifin, Lukman Sardi, Ringgo Agus Rahman, Deddy Mahendra Desta, Fanny Fabriana, Lilis, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Aldo Tansani, Yurike Prastica, Ence Bagus, Ki Daus Music by Khikmawan Sentosa, Sutrisno Cinematography Faozan Rizal Editing by Cesa David Luckmansyah, Syarif Hidayat Studio Indie Picture Running time 75 minutes Country Indonesia Language Indonesian

______________________________________________________________________
Catatan Kecil :

  • Makasih buat  DVD nya.. *ternyata dibeliin* :p
  • Saran Belilah  DVD Film Indonesia yang asli, Kemajuan film itu tergantung masyarakatnya, klo ga cari temen yang mau beliin hihihi
  • Oya ini Postingan Pertama di Tahun 2012, Met Tahun Baru Semua... :D