Senin, 13 Januari 2014

Bye Bye Sudirman

Hai, Hello apa kabar semua? bagaimana kabar kalian? sudah hampir tiga bulan saya tidak mempublish apa-apa disini, sedihnya! sebenernya banyak yang telah saya tulis tapi seperti biasa hanya menjadi sebuah draft saja tanpa menjadi publikasi yang tidak bisa dibaca oleh teman-teman semua, jangan tanyakan alasan karena saya tidak pintar membuat alasan. *timpuk* :))






Kelamaan gak nulis kamu ngapain aja ndi?

Mungkin banyak yang tidak tau, dari awal Juli 2013 sampai awal Januari 2014 kemarin saya belajar bekerja (magang) di sebuah perusahaan bernama KSEI yang berkantor di gedung Bursa Efek Indonesia, tempat yang menyenangkan untuk belajar dan mengenal dunia kerja, apalagi dengan tempat yang nyaman dan orang-orang yang ramah disana, tak terasa saya telah menghabiskan waktu enam bulan disana sampai akhirnya kontrak saya habis disana. tapi disini saya ga akan cerita tentang kerja disana tapi lebih  akan bercerita proses saya berangkat dan pulang kerja di jalan sudirman

Terlihat, Terdengar dan Terasa di Jalanan

Banyak yang bilang bekerja di Jakarta adalah kebahagiaan tersendiri, pusat ibukota dengan segala hal yang menyenangkan, yap itu menyenangkan apalagi kalau dekat dengan kantor tapi kalau berangkat dari rumah yang harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh itu membuat saya jadi banyak merenung selama perjalanan. Apa yang saya cari di dunia ini?

Kopaja no 19


Selama kerja disana saya berangkat pulang pergi menggunakan kereta api menuju salah satu jalan dengan pusat bisnis di Jakarta, yaitu Jalan Sudirman, lalu saya menyambung dengan kopaja bernomor 19 lalu turun di SCBD, klo di tempuh dari rumah total waktunya mungkin bisa 70-80 menitan lah tergantung kondisi jalan dan bermasalahnya kereta

Jalan Sudirman buat saya adalah sebuah tempat yang banyak orang banyak berdasi berpakaian rapi dan pusat keramaian di pagi sampai sore hari, tempat yang merupakan Magnet para pencari kerja yang menyenangkan, menjanjikan namun seringkali saya merasa kesepian disini bukan karena tak ada yang bisa di ajak bicara ... tapi semua orang begitu terburu-buru disini.

Seringkali saya pun terlambat berangkat ke kantor karena gangguan kereta api, ataupun ya karena saya terlambat bangun, ya seringkali saya tersadar disini semua bisa dihitung dengan uang, berapa potongan yang akan kita terima bila kita telat? bebebrapa orang akan marah mengenai itu, bahkan rela adu bacot dan berebut masuk kereta ataupun metromini untuk sesegera mungkin sampai kantor

tapi semua orang yang tampak buru-buru ini selalu tak sebanding dengan fasilitas yang ada, seringkali saya melihat antrian yang mengular atau berebut dengan penumpang lain untuk naik atau keluar dari kendaraan umum, itulah jakarta yang sering saya lihat, bagaimana kita semua mengeluh macet di Jakarta di Pagi dan Sore hari selalu jadi obrolan yang selalus aya dengar setiap hari.

berangkat di  pagi hari  dan pulangnya di sore hari selalulah sama, keramaian, hiruk pikuk cuma beda arah, selama enam bulan disana saya menemukan banyak hal yang saya renungkan diperjalanan salah satunya sebuah status yang dijadikan status yang dikutip oleh teman saya, yang bunyinya seperti ini :

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiunan tidak seberapa." (Menjadi Tua di Jakarta - Seno Gumira Ajidarma)

status sederhana itu menjadi pikiran buat saya apa yang saya cari di Jakarta, apa saya ingin jadi orang yang terburu-buru setiap pagi, dan mengeluh tentang kemacetan Jakarta. Saya sejenak untuk merenung sembari memperhatikan semua orang yang lalu lalang tapi saya tak pernah menemukan jawaban apa yang pasti. 

Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?

Kiri : Pacific Place || Kanan : Gedung Bursa Efek (saya di lantai 5) ^^
Saya belum pernah bekerja di kota lain, itulah mengapa saya tak menemukan jawabannya, akhirnya saya berdoa untuk mendapatkan kerja di kota lain, alhamdulilah-nya saya mendaptkan golden ticket itu, mungkin jawaban apa yang saya cari itu terjawab di tempat lain. ahaha

sebenernya sih perasaan campur aduk, soalnya seneng karena penasaran dengan tempat baru, tapi takut juga dengan masa adaptasi dan juga sekaligus sedih harus meninggalkan teman-teman yang udah mulai deket di KSEI dengan segala keceriannya, apalagi saya merasa KSEI adalah tempat yang sangat nyaman dan baik, ahh tapi namanya juga hidup kita harus belajar di tempat baru dan mulai minggu ini saya bersiap-siap untuk pindah ketempat baru, saya mohon doa restunya dan doa baiknya dari teman-teman semua semoga saya betah dan lancar di tempat ini, kalau penasaran saya pindah kemana silahkan nanya-nanya ke saya, karena saya belum publish untuk bagian itu ahaha *sok-sokan rahasia* :))

*udah dulu ah ceritanya*
Terimakasih atas perhatiannya
@ndibudi